Mendidik Manusia, Inilah 8 Tantangan yang Dihadapi dalam Melakukan Revolusi Pendidikan Abad 21

Hosting Unlimited Indonesia
DomaiNesia

Me­mang, pada masa penjajahan Pemerintah Belanda membutuh­kan tenaga pegawai yang siap pakai. Mereka tidak membutuhkan orang-orang yang mampu berpiki kritis, krearif, dan berwawasan luas. Ironisnva, pola semacam itu masih dipertahankan pada masa kini walaupun kolonialisme sudah lama berlalu.

Ketiga, pendidikan yang sejari juga sernakin sulit dilakukan ditengah perubahan budaya yang begitu cepat akibat revolusi in­dustri keempat. Dalam revolusi industri keempat, manusia meng­habiskan waktu di dunia digital lebih lama daripada di dunia nyata. Proses pendidikan menjadi sulit ketika murid lebih suka menghabiskan waktu bermain game atau berselancar di internet daripada belajar dan berdiskusi dengan gurunya.

Penelitian terbaru bahkan membuktikan penyakit kecanduan perangkat teknologi informasi dan komunikasi ini. Hubungan an­tar manusia di dunia nyata menjadi amat dangkal dan jarang. Se­mentara itu, hubungan manusia dengan mesin dianggap menjadi lebih utama. Hal ini merupakan salah satu tantangan besar bagi dunia peudidikan.

Baca juga: Ini Daftar Calon Kepala Daerah yang Diusung PDI Perjuangan pada Pilkada 2020
Baca juga: VIRAL! Seorang Guru Wanita Saat Mengajar Anatomi, Wow Liat Pakaiannya
Baca juga: Inilah Sosok yang Menginspirasi Munculnya Dracula
loading...

Keempat, dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, informasi rnenjadi begitu berlimpah. Bahkan, bisa di­bilang, dunia kebanjiran informasi. Akibatnya, banyak orang ke­bingungan. Bahkan, banyak juga yang terjebak berita palsu yang menyesatkan. Orang sulit untuk membedakan antara kebohong­an dan kebenaran, serta antara informasi yang penting dan yang tak penting.

Dalam proses pendidikan, banjir informasi menyebabkan ke­miskinan berpikir. Peserta didik hanya menyalin informasi, tetapi tidak menggunakan kemampuan berpikir kritis dan analitis. Ke­mampuan mereka untuk melampaui segala tantangan di dunia nyata pun berkurang. Mereka menjadi seperti komputer, yakni pandai menghafal informasi, tetapi lemah dalam penyelesaian masalah melalui pola pikir analitis dan kritis.

Kelima. perkembangan teknologi informasi dan komunikasi juga berdampak pada generasi yang lebih tua. Guru-guru senior sering kali tak mampu mengikuti perubahan besar yang terjadi. Beberapa ingin terlibat lebih jauh dan belajar menggunakan tek­nologi terbaru. Namun, tak sedikit pula yang menolak perubahan
sehingga perkembangan tidak bisa diikuti. Jurang antargenerasi ini membuat proses pendidikan meujadi sulit.

Hosting Unlimited Indonesia