Siswa SMAN 21 Makassar Belajar Sejarah dari Film

Hosting Unlimited Indonesia
DomaiNesia

Di bidang pendidikan, tambahnya, perlu kurikulum, fasilitas, dan akses yang tidak diskriminatif. Selanjutnya, perlu mendudukkan secara proporsional, pengajaran sejarah agama-agama melalui pendidikan multikulturalisme. Dia memuji guru dan pihak SMA Negeri 21 yang melakukan literasi sejarah dan budaya melalui film.

Sementara itu, Rifal Najering, menyebutkan pentingnya pengakuan terhadap peran para tokoh dan pemimpin informal, yakni tokoh agama dan adat setempat. Dia beberapa kali menekankan pentingnya mengembangkan sikap toleransi terhadap orang lain karena mustahil kita bisa diseragamkan.

Respons peserta terbilang cukup baik. Wina, Nurhapsah, dan Nur Hasmah, bertanya soal tabu, tentang kepercayaan yang masih bertahan di abad moderen, dan mengapa agama lokal tidak diakui oleh pemerintah.

Baca juga: Mau Membuat Website dengan Mudah dan Super Murah? Ini Solusinya
Baca juga: VIRAL! Babi Digantung 30 Tahun di Cina, Menjadi Makanan yang Harganya Milyaran, Mungkinkah Penyebab Virus Corona?
Baca juga: Viral! Zhirinovsky: Pandemik Virus Corona di Cina, Rekayasa AS
loading...

Pertanyaan juga dikemukakan oleh Muhammad Fahri. Dia bertanya, bagaimana kita bersikap kepada penganut agama atau kepercayaan yang tidak diakui negara.

“Kata kuncinya adalah perlu ruang dialog, sikap menghargai, tidak merasa benar dan main hakim sendiri, serta perlunya kerendah-hatian dalam melihat perbedaan,” pesan Rusdin Tompo.(*)

Hosting Unlimited Indonesia