Apresiasi Novel “Merah Di Langit Istana Luwu” : ENDING PLUS-MINUS; KEMATIAN YANG INDAH

Hosting Unlimited Indonesia
DomaiNesia
Oleh Mahrus Andis

Sudah pasti Idwar Anwar tidak berniat mengais-ngais kepedihan di balik sejarah perlawanan rakyat Luwu. Sebagai pengarang, lelaki Palopo Sulawesi Selatan yang merahasiakan tahun kelahirannya itu menawarkan kembali kisah cinta sepasang anak manusia di tengah perjuangan melawan penjajah. Di dalam novelnya, “Merah Di Langit Istana Luwu”(baca; MDIL), Idwar berkisah sebagai berikut:

Rajab, pemuda pejuang yang amat dekat dengan Andi Jemma, Datu Luwu, menjalin cinta dengan Maryam, seorang gadis keturunan bangsawan yang berprofesi sebagai guru partikelir di kampungnya. Kehangatan rasa cinta mereka bergejolak di saat api revolusi perjuangan rakyat Luwu meletup dengan semangat berani mati melawan tentara sekutu.

Janji Rajab untuk segera menikahi Maryam, dan itu diucapkan di depan orang tua kekasihnya, membuat konsentrasi perjuangannya mengalami goncangan. Keterlibatannya mengawal pergerakan pemuda di bawah pimpinan Datu Luwu membuat ia pasrah pada keadaan. Pada akhirnya, Maryam ditangkap oleh serdadu NICA dan akan dipersembahkan sebagai istri komandan Belanda Van der stood.

Baca juga: HPA Tenriadjeng, Ensiklopedi Sejarah Luwu dan Telur Colombus
Baca juga: Membebaskan Indonesia dari Historiografi Kolonial
Baca juga: Mau Membuat Website dengan Mudah dan Super Murah? Ini Solusinya
loading...

Berita penangkapan dikabarkan sendiri oleh ayah Maryam, Andi Ranung, dan meminta agar Rajab berusaha menyelamatkan calon istrinya itu. Namun, di sela-sela gencarnya tentara NICA melacak persembunyian Datu Luwu bersama pengikutnya, Rajab mendapat kabar bahwa Maryam sudah meninggal. Dia tertembak oleh Suster Maria, seorang pelayan kompeni, pada saat berjuang membebaskan diri dari upaya perkosaan yang dilakukan komandan Van der stood. Sejak itulah semangat hidup Rajab mulai goyah. Namun di lain sisi, kebenciannya kepada NICA semakin membara dan ingin segera membalaskan dendam kekasihnya, Maryam.

Rupanya nasib baik tidak berpihak kepada Rajab. Tempat persembunyian Datu Luwu terpantau oleh pesawat pengintai sekutu. Tanpa kesulitan, tentara NICA segera melakukan penyergapan. Andi Jemma berhasil ditawan dan diancam dibunuh bersama seluruh pengikutnya apabila tidak meletakkan senjata. Demi keselamatan rakyatnya, Datu Luwu memilih sikap pasrah serta meminta agar pemuda pejuang dan seluruh pengikutnya tidak bertindak melakukan perlawanan.

Hosting Unlimited Indonesia