FKN, Konsolidasi Negara-Negara Lama

Oleh Idwar Anwar

Memasuki wilayah Tana Luwu, 7 September 2019, tiba-tiba menggetarkan hati. Ada suasana lain yang lamat-lamat bertumbuh.  Rasa antusias memasuki tanah kelahiran tentu tak bisa terelakkan. Terlebih keinginan untuk menjadi penonton yang baik pada acara Festival Keraton Nusantara XIII, memberi energi tersendiri dalam diri.

Sebagai putra yang lahir di Kota Palopo, pastinya ada rasa bangga menyaksikan perhelatan akbar FKN ini dilaksanakan di tanah kelahiran. Sungguh kebanggaan itu akan berlipat-ganda, jika kegiatan ini berlangsung sukses dan memberi kesan yang baik bagi setiap peserta, terlebih bagi seluruh rakyat Luwu. Terlebih lagi jika mampu memberi solusi yang baik bagi penguatan nasionalisme dan semangat pembangunan bangsa Indonesia. Minimal saya merasa menjadi bagian dari kesuksesan itu, kendati hanya sebagai penonton yang baik.

Acara yang dihelat dari tanggal 7-13 September 2019 yang dihadiri ratusan raja dari seluruh Indonesia ini tentunya diharapkan akan memberikan dampak positif yang sangat besar bagi bangsa Indonesia, khususnya rakyat Luwu. Paling tidak rasa bangga sebagai wija to Luwu akan tumbuh dengan baik dan menjadi penyemangat dalam diri.

Baca juga: Jelang Hari Jadi dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu, Idwar Terbitkan Tiga Buku Tentang Luwu

Baca juga: Inilah Beberapa Versi Penamaan Palopo
Baca juga: Mencermati Sistem Politik Masyarakat Sulsel

Terlebih jika dihubungkan dengan ide menumbuhkan dan mempererat kesadaran sejarah, semangat perjuangan, dan cinta tanah air, tentu kegiatan ini akan menjadi kekuatan besar bagi persatuan bangsa. Apalagi jika melihat kondisi akhir-akhir ini dimana persatuan bangsa seperti kembali terkoyak, terutama disebabkan persoalan politik.

Ratusan raja yang hadir di perhelatan bergensi ini merupakan pemimpin-pemimpin dari negara-negara lama yang karena jiwa kebersamaan dan merasakan penderitaan yang sama kemudian mempersatukan diri dalam bingkai NKRI. Tentu saja keberadaan negara-negara lama ini merupakan penyokong kuat dan harus mendapat tempat yang pantas dalam membangun bangsa dan negera ini. Sekaligus sebagai tanggungjawab moral karena telah menyerahkan negaranya untuk kemudian bergabung dalam satu cita-cita besar bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu, posisi negara-negara lama ini tidak saja ditempatkan pada ranah atau kerangka mewujudkan pelestarian nilai-nilai budaya bangsa yang nyata. Namun mereka seharusnya menjadi salah satu tulang punggung bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia, terkhusus dalam mempertahankan NKRI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *