Makna Peringatan Hari Perlawanan Rakyat Luwu

Hosting Unlimited Indonesia
DomaiNesia
Oleh Andi Luthfi A. Mutty

Setiap tanggal 23 Januari rakyat Luwu memperingati Hari Perlawanan mempertahankan kemerdekaan. Dikenal sebagai Hari Perlawanan Total Rakyat Luwu. Hari Perlawanan itu pecah pada 23 Januari 1946.

Didahului dengan ultimatum yg ditandatangani oleh Datu Luwu, KH. M. Ramli (Kadhi Luwu) atas nama Umat Islam, dan M. Jusuf Arif sebagai mewaikili Pemuda. Tuntutannya adalah agar dalam waktu 2 kali 24 jam, seluruh tentara NICA harus berada di dalam tangsi.

Tidak boleh berkeliaran. “Casus belly” dari keluarnya ultimatum ini adalah tentara NICA masuk mesjid di Bua tanpa membuka sepatu. Lalu mengobrak abrik kediaman Opu Maddika Bua.

Baca juga: Inilah Sosok yang Banyak Menulis tentang Tana Luwu
Baca juga: Mau Kemana Arah Kebudayaan Indonesia?
Baca juga: Inilah 7 Agenda Strategis Kebudayaan Nasional
loading...

Tindakan itu telah menodai dua simbol yang sangat dihormati. Mesjid sebagai simbol agama dan rumah Opu Maddika sebagai simbol adat.

Tindakan itu jelas sebuah penghinaan. Telah menginjak injak harga diri. Siri’. Untuk semua itu, taruhannya tiada lain adalah nyawa.

Perlawanan dipimpin langsung oleh Datu Luwu Andi Djemma. Bermula di Kota Palopo. Berlanjut secara gerilya. Selama masa gerilya, pusat pemerintahan pun ikut berpindah dari satu tempat ke tempat yg lain.

Baca juga: Mengangkat Sejarah dan Budaya Luwu, Idwar Anwar: Ini Utang Kultural yang Harus Dibayar

Baca juga: Inilah Beberapa Versi Penamaan Palopo

Baca juga: FKN, Konsolidasi Negara-Negara Lama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Hosting Unlimited Indonesia