Manusia “Pelit” Bisa Sesat (Tinjauan buku OTAK Tanpa KOTAK)

Hosting Unlimited Indonesia
DomaiNesia

Membaca buku-buku ringan atau berat butuh suplemen tambahan sebagai pemicu menuntaskan bacaan-bacaan menarik didalamnya. Alhamdulillah, ketika saya mendapat bingkisan  buku dari Ny. Rusdi Rasyid, ibu kandung dari penulis buku di Kanjiro bulan lalu bersamaan dengan panen buah matoa, rambutan, sawo.

Khusus buah Matoa merupakan anugerah tersendiri sebab buah endemic asal Papua itu bisa berbuah lebih lebat di kebun milik Puang Hajjah Nurhayati, sesepuh HIKMA Luwu Utara.  Namun, tetap saja, cemilan buah itu lebih cepat tuntas dari pada menyelesaikan bacaan buku bermutu ini.

Jadinya, buku yang sedianya bisa dibaca tuntas dalam sepekan itu tidak kesampaian. Ya, karena OTAK dan lirikan mata lebih sering memperhatikan dimana KOTAK buah itu berada.  Akhirnya, buku ananda selama sebulan  itu lebih banyak menjadi penghias KOTAK kabin kendaraan.

Baca juga: HPA Tenriadjeng, Ensiklopedi Sejarah Luwu dan Telur Colombus
Baca juga: Membebaskan Indonesia dari Historiografi Kolonial
Baca juga: Mau Membuat Website dengan Mudah dan Super Murah? Ini Solusinya
loading...

Kembali ke buku.

Sebelum mencerna lebih jauh sisi lain dari buku itu, saya lebih dahulu ingin menyampaikan apresiasi dan salut atas terbitnya kumpulan tulisan ekslusif dari ananda Ratih Paradini, sarjana Kedokteran, kelahiran Masamba tahun 1995.

Penulis muda yg kritis itu telah meramaikan bursa buku-buku pilihan ditengah semangat membangkitkan gairah berliterasi yang pernah diklaim sangat rendah oleh badan PBB, UNESCO. Ternyata, semangat membaca tidaklah sebegitu rendah melainkan hanya soal terbatasnya akses mendapatkan buku-buku bermutu dan berjenjang.

Hosting Unlimited Indonesia