Misteri Keterharuan Religius di Cerpen Yudhistira Sukatanya (Mengais Moral Cerita “Suara yang Memanggil-manggil”)

Hosting Unlimited Indonesia
DomaiNesia
Oleh Andi Mahrus
  1. Prolog

Membaca cerpen Yudhistira Sukatanya, berjudul “Suara yang Memanggil-manggil”, menggugah rasa apresiasi saya untuk menyelusup ke balik proses kreatifnya. Cerita pendek yang dimuat di koran Fajar Minggu Makassar, 19 Mei 2019 tersebut digarap dengan intensitas stil yang terbilang rapi.

Bahasanya cair dan tidak terasa berat dikunyah oleh imaji pembaca. Plotnya pun bersahaja, namun cukup mampu memainkan ritme penceritaan yang menampung misteri.

Alur kisah yang ditutur sedemikian apik membuat imaji dinamis, merangsang kemerdekaan pembaca menemukan momen selebrasi-estetis di balik ceritanya.

Baca juga: HPA Tenriadjeng, Ensiklopedi Sejarah Luwu dan Telur Colombus
Baca juga: Membebaskan Indonesia dari Historiografi Kolonial
Baca juga: Mau Membuat Website dengan Mudah dan Super Murah? Ini Solusinya
Baca juga: VIRAL! Seorang Guru Wanita Saat Mengajar Anatomi, Wow Liat Pakaiannya
  1. Tinjauan Alur
loading...

Di awali flashback sang tokoh, pengarang berkisah tentang suara Pak Bilal. Dia seorang muadzin yang pernah menggugah suasana batin jamaah masjid, ketika mengumandangkan adzan di bulan suci Ramadan. Suara itu, kini, tak terdengar lagi. Pak Bilal meninggal dunia, justru pada saat adzan kembali menggelegar dari puncak menara dan menjadi ajang pertikaian warga di sekitar masjid.

Semenjak ditinggal Pak Bilal, pengaturan volume soundsystem di masjid itu mulai tidak terarah. Penyebab kisruhnya pembesar suara tersebut, oleh pengarang, diceritakan sebagai berikut:

Hosting Unlimited Indonesia