Misteri Keterharuan Religius di Cerpen Yudhistira Sukatanya (Mengais Moral Cerita “Suara yang Memanggil-manggil”)

Hosting Unlimited Indonesia
DomaiNesia

Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan oleh pengarang untuk menyempurnakan gizi menu ceritanya. Dan hal ini tentu tidak terlepas dari suasana hati atau mood pada saat menggarap cerita tersebut. Untuk kondisi semacam ini, kadang pengarang sulit mengelak dari berbagai tuntutan sistem di sekitar wilayah penciptaannya. Katakanlah contoh, bahwa salah satu syarat yang wajib dipenuhi pengarang untuk bisa mendapat ruang di rubrik halaman surat kabar atau majalah, adalah jumlah karakter sebuah tulisan.

Persyaratan semacam ini sangat memengaruhi sukma kreatifitas pengarang dalam mengolah dinamika dan variabel estetika ceritanya. Besar kemungkinan, cerpen Yudhistira kali ini pun mengalami hal tersebut. Entahlah.

Yang paling jelas, cerpen “Suara yang Memanggil-manggil” itu sudah selesai di habitat imajinasi pengarangnya. Hak pembacalah yang memungkinkan cerita itu menjadi bagus dan berhasil membawa sentuhan imajinatif di dalam rasa estetika masing-masing.

Baca juga: Mengangkat Sejarah dan Budaya Luwu, Idwar Anwar: Ini Utang Kultural yang Harus Dibayar
Baca juga: Inilah Sosok yang Menginspirasi Munculnya Dracula
Baca juga: Rusdin Tompo Kembali Menerbitkan Buku Puisi Bertema Anak
  1. Misteri Keterharuan
loading...

Religius

Meskipun garapan plot terkesan hemat, namun patut diakui bahwa cerpen tersebut cukup bernas dengan pesan moralnya. Yudhistira Sukatanya yang memiliki nama asli Eddy Thamrin, memanfaatkan tokoh Pak Bilal untuk mengecer gagasan keagamaannya. Melalui tokoh itu, pengarang menggagas pandangannya tentang pentingnya pengaturan soundsystem di setiap masjid agar tidak mengusik rasa tenang warga di sekitarnya.

Di aspek lain, cerpen “Suara yang Memanggil-manggil” adalah cerita ide yang sengaja diramu oleh pengarang untuk mengusung pesan moral berisi misteri keharuan religius. Misteri ini menempati ending cerita, yang tentu saja disiapkan untuk mencubit kembali kerinduan batin pembaca pada seorang penghulu yang teramat mulia.

Perilaku Bilal bin Rabah saat melantunkan adzan terakhirnya yang tidak sempat dia tuntaskan, berhasil dilukiskan dengan cukup manis oleh pengarang seperti berikut;

Hosting Unlimited Indonesia