Kedatuan Luwu dalam Lintasan Sejarah dan Kebudayaan

ARUNG, PALOPO – Buku yang mengungkap mengenai Kedatuan Luwu memang telah banyak diterbitkan. Namun tentu saja setiap buku memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tidak terkecuali dengan buku berjudul Kedatuan Luwu dalam Lintasan Sejarah dan Budaya karya Harisal A. Latief ini.

Kajian tentang Luwu memang telah dilakukan puluhan tahun yang lalu. Berbagai karya pun bermunculan. Namun hal itu tentu tidaklah membuat reproduksi pengetahuan mengenai Luwu harus berhenti. Semakin banyak buku tentang Luwu tentunya akan dapat menghadirkan berbagai perspektif dan tentunya akan menambah kekayaan data yang terungkap.

Baca juga: Jelang Hari Jadi dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu, Idwar Terbitkan Tiga Buku Tentang Luwu
Baca juga: Dua Tahun Jadi Walikota Palopo, Harta Judas Amir Naik 500%
Baca juga: Mencermati Sistem Politik Masyarakat Sulsel

Buku ini diawali dengan memaparkan berbagai hal mengenail Sure’ Galigo yang merupakan sumber tertulis mengenai Kedatuan Luwu. Naskah yang merupakan epos terpanjang di dunia ini memang merupakan rujukan penting dalam penulisan sejarah, di Sulawesi Selatan, khususnya di Tana Luwu.

Naskah ini dikumpulkan pada pertengahan abad ke-19 oleh Arung Pancana Toa Colli’ PujiE atas permintaan B.F. Matthes, seorang missionaris yang sedang mempelajari bahasa setempat guna menjalankan missinya menerjemahkan injil dalam bahasa setempat. Namun dalam perjalanannya ia justru menemukan naskah-naskah Galigo. Salinan naskah yang dikumpulkan itu kemudian di bagi ke dalam 12 jilid naskah. Oleh seorang ahli Belanda, R.A. Kern, kemudian membuat ringkasan La Galigo dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Salim.

Baca juga: Luwu, Merentas Jagad Kebudayaan
Baca juga: Merah di Langit Istana Luwu, Ini Sambutan Datu Luwu XL
Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *