Menguak Jalur Perdagangan dan Pelabuhan di Asia Tenggara 1000 SM-1400 M

Hosting Unlimited Indonesia
DomaiNesia

Sebuah catatan perjalanan dinasti Tiongkok kuno juga telah sangat membantu untuk menjelaskan beberapa pusat perdagangan awal di Semenanjung. Berdasarkan sejarah dinasti Cina, khususnya Liangshu dan Sui Shu pada abad Ketujuh M dan Chui Tang-shu (catatan lama dinasti Tang 618-906 M; serta ensiklopedia Cina abad Kedelapan Masehi, T’ung tien, dapat diketahui mengenai keberadaan beberapa kebijakan perdagangan pada abad Ketiga Masehi, seperti Tun-sun, Chu-Ii, dan Lang-ya-hsiau.

Berdasakan sumber-sumber awal Cina ini dapat pula diketahui persis kapan kebijakan perdagangan ini mulai diterapkan ke dalam hubungan perdagangan formal dengan Cina. dengan kata lain, ketika mereka mulai berpartisipasi dalam perdagangan di anak sungai; P’an-p’an sudah mengirim duta dagang ke Cina pada abad Kelima Masehi, Liang-ya-hsiu dan Tan- tan melakukan hal yang sama pada abad Keenam, diikuti oleh Ch’ih-t’u pada awal abad Ketujuh.

Catatan perjalanan Cina, seperti yang dilakukan oleh I-Ching juga memberikan bukti yang pasti akan keberadaan Chieh-Ch’a di Semenanjung yang merupakan pelabuhan penting di rute maritim antara Asia Tenggara dan India pada abad Ketujuh. Catatan-catatan I-Ching juga berisi referensi ke Lang-chia-shu (Liang-ya-hsiu) dan Tan-tan. (hlm. 19).

Baca juga: Ini Daftar Calon Kepala Daerah yang Diusung PDI Perjuangan pada Pilkada 2020
Baca juga: VIRAL! Seorang Guru Wanita Saat Mengajar Anatomi, Wow Liat Pakaiannya
Baca juga: Inilah Sosok yang Menginspirasi Munculnya Dracula
loading...

Berdasarkan catatan-catatan sejarah ini dapat pula diketahui informasi mengenai jenis-jenis komoditas perdagangan yang ditransaksikan di berbagai pasar kuno. Di Liang-ya-hsiu, misalnya, produk-produk lokal seperti gading, tanduk badak, kayu gharu dan kapur barus ditukar dengan, tenaga, beras, sutra, dan keramik. (hlm. 19).

Di Tan-ma-ling (Tambralinga) pedagang asing dapat memperoleh barang-barang, seperti lilin lebah, kayu laka, kayu gharu, kayu hitam, kapur barus, kapur barus, tanduk gading dan badak dengan imbalan payung, sutra, anggur, beras, garam, gula, keramik, mangkuk tembikar, dan barang-barang serupa serta piring-piring emas dan perak. Adapun produk-produk di Kalah, termasuk kayu gaharu, kapur barus, cendana, gading, timah, kayu hitam dan semua jenis rempah-rempah. (hlm. 19).

Berdasarkan sumber-sumber yang diperoleh, ditinjau dari sudut perdagangan, Leong Sau Heng dalam artikel ini melihat bandar yang terdapat di Asia Tenggara digolongkan dalam tiga tipe yakni bandar “Collecting Centres”, “Entrepot”, dan “Feeder Points”.

Hosting Unlimited Indonesia