Menguak Jalur Perdagangan dan Pelabuhan di Asia Tenggara 1000 SM-1400 M

Hosting Unlimited Indonesia
DomaiNesia

Dalam uraiannnya, Heng menyebut bahwa Bandar yang bertipe “Collecting Centres” adalah bandar tempat menumpuknya berbagai barang komoditi yang datang dari bandar lain untuk dikonsumsi sendiri dan didistribusikan ke daerah pedalaman. Bandar ini didukung oleh hasil bumi di sekitarnya dan terletak di pesisir, atau di hulu sungai yang dekat dengan daerah penghasil barang komoditi.

Diuraikan bahwa berdasarkan temuan arkeologi di Semenanjung Malaysia telah mengidentifikasi sejumlah pusat perdagangan prasejarah, yang berasal dari milenium pertama SM. hingga awal milenium pertama M. Di daerah pesisir dan pedalaman sungai. Sebagian besar merupakan situs perdagangan kecil dan dapat digambarkan sebagai ‘collecting centres’. Collecting centres seperti itu berfungsi terutama sebagai gerai untuk penyediaan khusus komoditas lokal. Keberadaan situs ini mungkin atau mungkin juga tidak terletak di titik-titik strategis di sepanjang rute perdagangan utama.

Contoh penting dari pusat pengumpulan prasejarah di Semenanjung adalah Kampung Sungai Lang dan Kelang di pantai Selangor, dan Batu Buruk di Terengganu. Situs-situs ini terletak di daerah yang kaya akan timah dan /atau emas yang berada di wilayah aluvial atau sepanjang rute sungai yang mengarah ke daerah tersebut. Temuan drum perunggu prasejarah tipe Dongson (Heger Tipe I), beberapa manik-manik kaca, serta pecahan-pecahan peralatan besi yang berada di situs-situs ini, menunjukkan bahwa daerah ini telah melakukan hubungan perdagangan dengan Daratan Asia Tenggara. (hlm. 23).

Baca juga: Inilah Sosok yang Banyak Menulis tentang Tana Luwu
Baca juga: Membebaskan Indonesia dari Historiografi Kolonial
Baca juga: Mengangkat Sejarah dan Budaya Luwu, Idwar Anwar: Ini Utang Kultural yang Harus Dibayar
loading...

Adapun banda/pelabuhan tipe “Entrepots” merupakan bandar yang berfungsi untuk pengumpulan barang yang dibawa oleh kapal dagang dari berbagai negeri, seperti dari Timur Tengah, India, dan Eropa. Di sini terjadi pemindahan barang dagangan dari kapal yang satu ke kapal yang lain, dan selanjutnya dikapalkan ke negeri lain. Tipe bandar “Entrepots” pada milenium pertama tergantung pada angin muson.

Di Semenanjung, merupakan pusat utama perdagangan, atau “entrepots”, yang diketahui sejak milenium pertama Masehi dan selanjutnya. Pelabuhan berkembang sebagai respons terhadap peningkatan volume perdagangan lintas laut di perairan Asia Tenggara.

Apabila berlokasi nyaman di rute maritim timur-barat dan memiliki pelabuhan alami yang baik, fasilitas gudang yang memadai (sangat diperlukan bagi pedagang yang menunggu musim hujan berikutnya) dan pasokan air bersih serta makanan berlimpah, menjadikan pelabuhan-pelabuhan ini sangat populer untuk para pedagang, utamanya pedagang yang harus membutuhkan waktu lama untuk menunggu pelayaran berikutnya. (hlm. 26).

Hosting Unlimited Indonesia