Menguak Jalur Perdagangan dan Pelabuhan di Asia Tenggara 1000 SM-1400 M

Hosting Unlimited Indonesia
DomaiNesia

Dalam perkembangannya, bandar emporium memiliki fasilitas ekonomi berupa kredit, gudang, penginapan, dan sebagainya. Kegiatan para pengusaha yang cukup besar dengan menguasai perdagangan sendiri merupakan salah satu ciri dari bandar emporium. Kapal bisa mereka beli atau disewa untuk mengadakan ekspedisi dagang ke bandar yang lain, dan seringkali nakhoda kapal merangkap sebagai pedagang. Usaha dagang semacam itu dinamakan sebagai pedagang Commenda.

Dalam kesimpulannya, Heng menyebutkan bahwa pusat-pusat perdagangan awal di Semenanjung Malaya muncul secara eksklusif untuk pertukaran komoditas berdasarkan ekspor sumber daya alam, khususnya logam dan hasil hutan dari wilayah tersebut. Banyaknya muncul pusat pertukaran barang/perdagangan di Semenanjung agaknya juga menunjuk pada pentingannya kepemilikan ekonomi.

Selain itu, keberadaan collecting centres (pusat pengumpulan) masa prasejarah di pantai barat dan timur Semenanjung Malaysia menunjukkan bahwa sudah ada beberapa bentuk pertukaran intra-regional. Barang-barang yang ditukarkan selama masa prasejarah akhir ini kemungkinan berupa bijih mineral, seperti timah yang terjadi di Semenanjung (pusat timah) dan di Asia Tenggara sebagai pusat perunggu. Namun, jika menilai dari beberapa temuan yang diperoleh dari pusat-pusat pengumpulan ini, kemungkinan perdagangan ini hanya dilakukan secara sporadis dan dalam skala kecil.

Baca juga: Mau Membuat Website dengan Mudah dan Super Murah? Ini Solusinya
Baca juga: SEJARAH DAN BUDAYA MARITIM INDONESIA: Sebuah Pengantar
loading...

Baca juga: Adian: Negara Wajib Hadir untuk Pengembangan Potensi Wisata dan Senibudaya

Berdasarkan pandangannya, Heng menyebutkan hampir seluruh pengetahuan tentang pusat-pusat perdagangan di Semenanjung selama fase awal perdagangan maritim hingga sekitar seperempat pertama milenium pertama sebelum masehi, berasal dari sumber-sumber tekstual, terutama catatan-catatan Cina, karya sastra India, dan tulisan-tulisan Ptolemy.

Kendati demikian, terlepas dari banyak keterbatasan dan ambiguitas, catatan-catatan ini memiliki lebih banyak menjelaskan toponim kebijakan perdagangan serta informasi yang berguna tentang jenis komoditas yang dipertukarkan di pusat-pusat perdagangan ini. Walaupun secara arkeologis, banyak dari pusat-pusat perdagangan awal ini sangat sedikit ditemukan bukti-bukti fisik dari kegiatan perdagangannya, namun dapat diasumsikan bahwa “pelabuhan perdagangan” telah muncul, paling tidak pada abad-abad awal milenium pertama Sebelum Masehi (hlm. 30-31)

Tulisan ini tentu sangat bermanfaat untuk melacak keberadaan pusat-pusat perdagangan di Asia Tenggara, termasuk berbagai barang dagangan yang menjadi komoditas yang pernting di masa itu. Leong Sau Heng berhasil mengurai banyak hal, utamanya dalam menjelaskan pusat-pusat perdagangan/bandar di Asia Tenggara yang digolongkan dalam tiga tipe yakni bandar sebagai “Collecting Centres”, “Entrepot”, dan “Feeder Points”.

Idwar Anwar, Makassar, Maret 2020

Hosting Unlimited Indonesia