Selayar dan Pergerakan A.G.H. Hayyung

Oleh Thamrin Mattulada*

Tokoh Abdul Hay atau lebih dikenal dengan nama A.G.H. Hayyung merupakan tokoh penting dalam pengembangan Islam dan perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Selayar. Kehadirannya telah memberikan perubahan bagi pemahaman ke-Islaman masyarakat Selayar dan menjadi salah seorang pembangkit semangat perlawanan terhadap penjajahan.

A.G.H. Hayyung lahir dan dibesarkan di kampung Barugaiya-Selayar. Ia hidup dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang agamis. Di masyarakat Selayar ketika itu, keluarga Hayyung dikenal sangat kaya. Karenanya, Hayyung hidup berkecukupan dalam hal materi. Keluarga Hayyung memiliki kebun kelapa yang sangat luas, tanaman yang ketika itu merupakan sumber penghidupan utama sebagian besar masyarakat, baik di daratan Pulau Selayar maupun di daerah kepulauannya.

Namun hidup dalam keluarga yang bercukupan pada masa kecilnya membuat Hayyung menjadi anak yang suka bersenang-senang. Sebagai seorang anak yang masih kecil, kenakalan Hayyung dapat dikategorikan kenakalan anak-anak. Namun orang tuanya tidak dapat menerima kenyataan Hayyung yang sudah salah pergaulan. Karenanya, pada umur 11 tahun, ia pun dititipkan pada jamaah haji yang akan berangkat ke Mekkah.

Baca juga: Jelang Hari Jadi dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu, Idwar Terbitkan Tiga Buku Tentang Luwu
Baca juga: Dua Tahun Jadi Walikota Palopo, Harta Judas Amir Naik 500%
Baca juga: Mencermati Sistem Politik Masyarakat Sulsel

Hidup di Arab ternyata membuat perubahan hidup Hayyung sangat drastis. Perenungan Hayyung sebagai seorang kanak-kanak tentang hidup ternyata memberikan sebuah cahaya terang yang akan menuntun jalan Hayyung dalam mengarungi kehidupannya kelak.

Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini pasti memiliki sejarah perjalanan hidup yang berbeda-beda. Dinamika kehidupan yang dialami oleh setiap orang, sadar atau tidak, telah membentuk sebuah kepribadian pada masing-masing individu. Karena begitu, setiap orang pastinya akan belajar untuk terus mengembangkan/menjaga intelektualitas, moralitas dan emosionalitasnya untuk dapat menghadapi gelombang kehidupan yang setiap saat pasti akan berbeda tantangannya.

Namun begitu, perjalanan setiap orang, betapa pun indah atau tragisnya, namun tak akan bisa memunculkan rasa kekaguman atau simpati bila perjalanan hidup itu tidak pernah diceritakan, terlebih dituliskan. Karenanya, generasi kini, apalagi generasi yang akan datang, tak akan mampu belajar dan mengambil hikmah dari perjalanan kehidupan seseorang yang hebat sekali pun, kalau ia tak pernah mendengar apalagi membacanya. Apa yang diungkapkan oleh Coleridge dalam buku The Critical Significance of Biografical Evidence, mungkin benar. Menurutnya, jika setiap kehidupan –walaupun mungkin tak ada artinya–, jika diceritakan dan dituliskan dengan jujur, pasti akan menarik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *