Selayar dan Pergerakan A.G.H. Hayyung

Hosting Unlimited Indonesia
DomaiNesia

“Kuingin menceritakan jalan hidupku, bukan memperlihatkannya” begitu kata Emily Bronte. Buku ini juga hadir untuk menceritakan perjalanan panjang kehidupan seorang tokoh Islam dan pejuang kemerdekaan di Selayar. Penulisan biografi ini berusaha menceritaan perjalanan A.G.H. Hayyung, bahkan latarbelakang orang tuanya.

Di dalam buku ini, kita seperti berhadapan dengan seorang “aktor”. Tetapi sesungguhnya kita juga berhadapan dengan lingkungan sosial dan kultural di mana sang aktor memainkan peranan di dalamya. Lingkungan sosial dan kultural itu berada dalam sebuah ruang dan waktu dimana sang tokoh hidup dan memberi makna pada kehidupannya.

Membaca buku ini, kita juga seperti berhadapan dengan seorang “tokoh”. Tetapi sesungguhnya kita juga akan berhadapan dengan banyak manusia yang memiki karakter yang tentu berbeda-beda. Dari situ pula, kita akan menemukan ide-ide, pikiran-pikiran, perasaan, maupun obsesi-obsesi dari sang tokoh. Hal ini dapat ditelusiri dalam buku Selayar dan Perherakan A.G.H. Hayyung ini.
Dalam buku ini, perjalanan Hayyung sejak kecil hingga meninggal, diuraikan dengan baik.

Baca juga: Luwu, Merentas Jagad Kebudayaan
Baca juga: Merah di Langit Istana Luwu, Ini Sambutan Datu Luwu XL
Baca juga:
loading...

Perjalanan batin Hayyung sangat jelas terlihat ketika ia harus pergi ke Arab Saudi. Di tempat yang sangat jauh dari kampung halamannya, Hayyung banyak belajar tentang agama Islam. Dari pengalamannya belajar tentang Islam di Arab Saudi inilah yang dikemudian hari membawa Hayyung menjadi seorang tokoh Islam pembaharu di Selayar.

Sejak di Arab Saudi, Haji Hayyung banyak dipengaruhi oleh ajaran Wahabiyah dan Salafiyah. Inilah yang kemudian mempengaruhinya dalam mengembangkan ajaran Islam di Selayar. Ia ingin membersihkan aqidah ummat Islam dari belenggu takhayul, bid’ah, dan khurafat.

Masyarakat di Selayar ketika itu, hampir seluruhnya menganut agama Islam dari semua lapisan masyarakat. Masyarakat Selayar merupakan penganut agama Islam yang fanatik, tetapi dalam pelaksanaannya mereka jauh menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Mereka tidak mengenal adanya pemisahan yang jelas antara upacara agama dengan upacara adat yang merupakan warisan dari kepercayaan animism dan dinamisme. Mereka tidak memahami dengan jelas mana yang hak dan bathil, mana yang sunnah dan mana yang bid’ah. Karena tingkat pemahaman agama yang sangat rendah, sehingga dalam menjalankan ibadah pun mereka mencampur-adukkan dengan takhayul, bid’ah, dan khurafat. Hal ini juga disebabkan karena begitu kuatnya pengaruh budaya dan ajaran kepercayaan nenek moyang sebelum masuknya ajaran Islam. Realitas inilah yang membangkitkan semangat Hayyung untuk segera mengubahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Hosting Unlimited Indonesia