Puisi dari Lorong-lorong Sunyi Eksistensial

Hosting Unlimited Indonesia
DomaiNesia
Oleh Badaruddin Amir

Satu

Menjadi penyair mestinya harus menempuh jalan sunyi. Sebuah jalan yang tidak banyak dilalui orang, lantaran jalan itu tidak memiliki rambu apa-apa, tidak memiliki petunjuk arah apa-apa, terutama juga tidak menjanjikan apa-apa bagi penyairnya. Jika pun –seperti kenyataannya– banyak orang,– terutama anak muda, yang berminat menempuh jalan menjadi penyair, maka yang banyak itu juga menempuh jalan sunyi masing-masing. Mereka berkarya sendiri-sendiri secara individual dan tak saling melirik, apalagi berkolabosasi sebagaimana halnya karya-karya seni populer yang lain.

Puisi memang tidak segolongan dengan karya-karya seni populer. Puisi diciptakan oleh penyair dalam pergulatan (kontemplasi) “sunyi” yang akhirnya melahirkan “kegaduhan-kegaduhan” eksistensial manusia. Karena itulah puisi memiliki keunikan tersendiri dan diberi keistimewaan untuk melanggar aturan ketatabahasaan yang dikenal dengan licentia poetica, dibanding dengan karya-karya sastra lainnya.

loading...

“Aku menulis puisi karena ada yang tak bisa aku teriakkan dalam bentuk prosa”, begitu pengakuan salah seorang penyair terkenal, Subagio Sastrawardojo, yang juga dikenal sebagai esais/kritikus dan cerpenis Indonesia terdepan. Puisi-puisi Subagio yang terkumpul dalam “Simphoni (1957)”, “Daerah Perbatasan (1970)”, “Keroncong Motinggo (1975)”, “Buku Harian (1979)”,”Hari dan Hara (1982)”, dan “Kematian Makin Akrab (1995)” pada dasarnya adalah teriakan-teriakan sunyi yang tidak memiliki keterbatasan ungkapan. Bahkan dalam berbagai hal banyak penyair yang tak lagi mengindahkan sama sekali aturan-aturan konvensional kebahasaan yang dalam komunikasi sehari-hari tak lagi dapat disebut sebagai “media” komunikasi.

Baca juga: Inilah Sosok yang Banyak Menulis tentang Tana Luwu
Baca juga: Mau Kemana Arah Kebudayaan Indonesia?
Baca juga: Inilah 7 Agenda Strategis Kebudayaan Nasional

Demikian pula dengan Fajriani Ramadhan, seorang guru yang mencoba memasuki lorong sunyi puisi dalam beragam tema puisinya. Ada puisi-puisi sunyi tentang cinta, ada pusi sunyi tentang religiositas keagamaan dan ada pula puisi-puisi sosial . Kesemua dikelompokkan dengan tema . Sunyi mewarnai perjalanan eksistensial puisinya, dan ke dalam sunyilah ia mulai memperdengarkan suara :

Adakah yang lebih syahdu dari percakapan
langit dan purnama?
Ketika matahari pulas dan pelangi bersembunyi di balik tirai
Angin mendesah lirih
Menatapnya tanpa kedip

Adakah kesedihan melebihi hujan?
Ketika airmata yang menyertainya sunyi dari kata-kata
Tak ada kidung merdu
Tak ada derik dan hela
Selain bisik tanah pada daun yang jatuh
Di lorong waktu antara aku dan kau
yang menjelma sunyi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Hosting Unlimited Indonesia