Merah di Langit Istana Luwu, Ini Sambutan Datu Luwu XL

MAKASSAR, ARUNG – Buku berjudul Merah di Langit Istana Luwu yang ditulis Idwar Anwar ini merupakan sebuah novel yang berlatar perlawanan rakyat Luwu 23 Januari 1946. Berdasarkan penuturan Idwar, buku ini ditulis sebagai upaya untuk lebih mendekatkan masyarakat, khususnya generasi muda dengan sejarah Luwu.

“Melalui karya sastra saya ingin sejarah dan kebudayaan Luwu dapat tersebar dan dibaca oleh masyarakat, khususnya generasi muda. Karya sastra menjadi salah satu media penulisan yang menurut saya lebih mudah sampai kepada masyarakat. Melalui novel ini, para pembaca akan mengetahui seperti apa sesungguhnya peristiwa 23 Januari 1946 yang menjadi salah satu hari terpenting bagi masyarakat Luwu, bahkan Indonesia,” jelas Idwar.

Baca juga: Sesat dan Menyesatkan
Baca juga: Inilah 5 Penyanyi Terkaya di Dunia

Idwar Anwar, sebagai salah seorang wija Luwu yang dikenal sebagai seniman dan budayawan Luwu, selama ini memang memiliki komitmen dalam mengangkat berbagai khazanah kekayaan sejarah dan budaya yang terkandung di Tana Luwu. Ini terbukti dengan puluhan buku yang telah ditulis dan diterbitkannya. Belum lagi ditambah beberapa tulisannya yang tersebar di berbagai media tentang Luwu.

“Selama ini saya memang komitmen untuk terus menganggat berbagai hal tentang Luwu. Berbagai bentuk penulisan saya lakukan untuk itu, baik berupa tulisan artikel, cerpen, puisi, novel, hingga menulis cerita rakyat,” ungkap mantan Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Palopo ini.

Melalui novel ini Idwar berharap pengenalan sejarah Luwu bisa semakin meluas dan diketahui oleh masyarakat, khususnya bagi generasi muda, terkhusus lagi di Tana Luwu. Model ini, kata Idwar, memang cukup baik sebagai upaya pengenalan sejarah Luwu di kalangan muda.

Baca juga: Sepasang Mata Ibu
Baca juga: Kota Tuhan

“Novel kan lebih mudah dipahami, asyik dibaca dan sangat disukai oleh semua tingkatan usia, khususnya anak-anak muda. Cukup berbeda jika kita membaca buku-buku sejarah yang ditulis dengan teknik penulisan ilmiah. Bagi sebagian orang, apalagi generasi muda, mungkin dianggap agak membosankan,” kata Idwar.

Sekretaris Banteng Muda Indonesi (BMI) Sulsel ini juga menyebutkan, upaya yang selama ini dilakukannya memang merupakan perjuangan yang harus terus dilakoninya. Kecintaannya pada tanah kelahirannya membuat Idwar terus berupaya mengangkat berbagai khazanah tentang Luwu dalam karya-karyanya.

Selintas Novel Merah di Langit Istana Luwu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *